Kamis, 31 Desember 2015

Muna atau (?)

Tahun baru dengan post baru!

Entah kenapa blog gue isinya malah jadi berat kaya gini? Mungkin menyesuaikan dengan berat badan tetangga gue.

Muna. Sering denger ga sih? Post ini terinspirasi dari salah satu orang yang gue kenal. Kenapa muna?


Oke, gue bahas. Sebenernya gue ga pengen sih ikut campur urusan orang lain tapi yaudahlah ya sekali duakali. Hehe.


Berawal dari post-post dia di facebook yang subhanallah sekali, beneran itu juga gue jadiin pelajaran loh karna ilmu agama gue juga cuma seujung kuku.


Trus pengakuan dia yang intinya "anti pacaran banget" itu bikin gue jadi kepo gimana sih dia? ..dan dia terlalu fokus dengan "anti pacarannya" itu tanpa melihat sisi negatif dia tapi dia ngerasa seolah dia the most perfect human in the whole universe gitu.


Ga, gue gamau bahas akhlak orang karna gue juga belom bener-bener banget yang baca al-quran aja satu-satu. But, hey! Gue sadar dengan kekurangan gue, and Im not perfect for sure.

Jadi gini, dia penggemar salah satu idol girl yang bajunya kurang bahan, padahal dia suka ngepost soal hijab, tabarruj. Kenapa dia ga kepikiran buat ngidolain sekelompok orang qosidahan misalnya yang jelas jelas berhijab dan islami?


Bahkan, menurut salah satu sumber kita tidak boleh mengidolakan selain nabi muhammad loh? Gimana tuh?

Another one, dia suka banget bilang jangan ikutin kebiasaan orang kafir sering banget rasis soal agama. But, hell yeah itu idol girl yang dia suka isinya apaan? Cewe muslim semua kah? Yakin?


Dan yang emang yang jadi sorotan gue banget, anti pacarannya itu. Okelah dia ga punya pacar, tapi dia lagi deket sama cewe dan itu bukan taaruf. Ada emot-emot love menurut ngana itu apaan? Gue tau dia lagi pedekate sama itu cewe tapi dengan bangga dia bilang "gue bukan penganut pacaranisme". 

Sebenernya dia suka sama cewe which is itu manusiawi dan gue ga ngelarang, sama sekali engga (malah gue doain biar mereka jodoh). Masalah dia cuma deketin, dan menurut dia itu ga masuk itungan pacaran karena baru kode ya itu pendapat dia. Semua orang punya pendapat masing-masing. Dan gue punya pendapat dimana orang pacaran berawal dari kode-kodean. Gitu.


Dari salah satu blog yang gue baca (http://anislathifah.blogspot.co.id/2014/06/taaruf-apa-pacaran-islami.html) arti taaruf itu kaya gini "Remaja yang mengaku sedang ta’arufan, kemudian bisa sesuka hati mereka mengobrol dan bercanda tanpa ada batasan. Ini salah. Tetap saja, dia belum sah jadi mahrom mu. Dosa akan tetap ada. Meskipun mengatakan ta’arufan tapi kelakuan-kelakuan diatas mirip dengan orang yang sedang pacaran. Dalam ta’aruf yang sesungguhnya tentu saja tidak demikian. Dalam ta’aruf sesungguhnya, akhwat dan ikhwan baru dipertemukan dan dikenalkan oleh walinya. See?

Jadi dia cuma (ngerasa) taaruf, padahal mendekati pacaran juga kan?

Nah, disini yang jadi masalah idealisme dia yang bertolak belakang. Okelah, gue bukan pendukung orang yang pacaran tapi gue ga ngelarang pun anti. Gue ga punya pacar walau pernah punya pacar. Dan satu hal yang gue tau, orang yang pernah pacaran dan yang belum pernah pacaran sama. Sama-sama manusia, dan sama-sama punya dosa.

Apakah yang pernah / punya pacar lebih banyak dosanya? Apakah amalan di dunia ini cuma soal pacar? Engga kan? Case closed.


Intinya, bijaklah dalam berkata dan berucap. Saring apa yang mau di share. Orang ngeliat kita, dan mereka siap tertawa untuk setiap kesalahan yang kita perbuat.

Kalo belom siap beridealisme kenapa harus diumbar sih?

Bagus kalo punya idealisme anti pacaran, anti orang kafir, suka sama wanita tabarruj tapi simpanlah pada tempat yang benar, bukanya sebaik-baiknya niat yang diucapkan dalam hati?

Bagus kalau mau berbagi tentang ilmu-ilmu yang baik, tapi jangan cuma dibagi dong. Diamalin juga.

Kalo belum bisa?

Ga perlu lah mengumbar apa yang masih kita ingkari. Bahasa kasarnya "Bercerminlah"

Ga perlu lah merasa paling benar dengan idealisme yang kita punya.

Ga perlu lah mengumbar kebencian dengan menyebarkan hal rasis tentang agama, agama itu soal hati. Dan masalah hati itu ga bisa dipaksa kan? Tau surat Al Kafirun?

Trus, gue sempurna sampe bisa komenin hidup orang kaya gini? Engga. Gue bold nih ya ENGGA. Justru gue lagi belajar, dan dengan adanya orang-orang kaya dia bikin gue mikir "untung gue ga kaya dia", gitu.

ps. Kalau entah bagaimana orang yang gue maksud baca, semoga post ini bisa jadi bahan buat saling memperbaiki diri.